Situs Karangkamulyan










Situs Karangkamulyan terletak tepat di pinggir jalan antara Ciamis dan Banjar, sehingga dengan cukup mudah dicapai. Apa yang membuat situs ini menarik adalah terdapatnya sisa-sisa kebudayaan kerajaan Galuh, dan oleh masyarakat setempat dihubungkan dengan cerita rakyat Ciung Wanara.

Akses
Untuk menuju
situs ini, dari kota Ciamis tinggal mengikuti jalan utama menuju ke Banjar. Sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil maka di sebelah kanan jalan dapat anda temui situs ini dengan ciri khas area parkir diantara pepohonan dan warung-warung berderet rapi. Untuk anda yang memiliki GPS silahkan mengarah ke koordinat S7.346833 - E108.489333. Tiket masuk hanya dikenkan Rp. 1.500 per orang.


Peninggalan Galuh
Kerajaan Galuh adalah pecahan dari kerajaan Tarumanegara yang pamornya semakin melemah pada abad ke 7. Kerajaan Tarumanegara terbagi dua pada tahun 670 M menjadi :
  1. Kerajaan Sunda, dengan kekuasaan dari ujung barat pulau jawa hingga ke sungai Citarum sebagai batas timur, beribukota di sekitar hulu Cipakancilan. Pendirinya adalah Tarusbawa.
  2. Kerajaan Galuh, dengan kekuasaan dari mulai sungai Citarum hingga ke Kali Cipamali (wilayah Jawa Tengah sekarang), beribukota di sekitar Ciamis sekarang. Pendirinya adalah Wretikandayun.

Situs Karangkamulyan sering dihubungkan dengan cerita Ciung Wanara atau nama lainnya adalah Manarah, atau dikenal pula dengan gelar resminya sebagai Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana. Cerita Ciung Wanara dipenuhi dengan berbagai cerita kesaktian dan mistik, namun sepertinya cerita ini merupakan suatu simbolisme atas hal-hal yang terjadi pada saat tersebut. Inti cerita dari Ciung Wanara adalah perebutan kekuasaan diantara dua keturunan kerajaan Galuh yaitu antara Manarah dan Banga. Puncak cerita adalah mengenai Manarah yang berhasil memanfaatkan kelemahan Banga yang menyukai sabung ayam sehingga lengah akan pertahanan kerajaan. Sejarah mencatat bahwa perseteruan ini ditengahi oleh Resi Demunawan, dan atas perundingan kedua pihak (739 M) disepakati bahwa Manarah diserahi kekuasaan Kerajaan Galuh, sementara Banga diserahi kekuasaan Kerajaan Sunda.










Situs Menarik
Pertama masuk, kita langsung dihadapkan pada sebuah jalan kuno sisa peninggalan kerajaan Galuh. Situs Karangkamulyan yang oleh masyarakat sekitar dikaitkan dengan cerita Ciung Wanara, memiliki berbagai situs menarik yaitu :
  1. Penyabungan ayam, yaitu suatu tempat berupa lapangan kecil yang dipercaya sebagai tempat penyabungan ayam di jaman Ciung Wanara
  2. Sanghyang Bedil, merupakan sebuah susunan bebatuan yang membentuk ruangan sekitar 6m x 6m dengan tinggi sekitar setengah meter dengan fungsi yang tidak diketahui. Namun masyarakat bercerita bahwa pada zaman dahulu sering terdengar suara bedil (senapan) sebagai pertanda dari situs ini bila akan terjadi suatu kejadian besar.
  3. Pangcalikan, dipercaya oleh masyarakat sebagai singgasana raja.. Situs ini berbentuk susunan batu yang membentuk ruangan dan dilengkapi sebuah batu berbentuk persegi di tengah-tengahnya.
  4. Lambang Peribadatan, adalah suatu susunan batu berukuran 3m x 3m dengan dilengkapi sebuah batu berukir di bagian tengah. Batu berukir ini sepertinya merupakan bagian kemuncak dari sebuah candi.
  5. Panyandaran, adalah batu yang merupakan sebuah menhir dengan tinggi sekitar 120cm dan sebuah batu kubur (dolmen). Panyandaran dipercaya masyarakat sebagai tempat Dewi Naganingrum melahirkan Ciung wanara yang kemudian beristirahat selama 40 hari di tempat tersebut karena kecapaian setelah melahirkan.
  6. Cikahuripan, adalah sebuah sumur yang melambangkan sumber kehidupan (hurip = hidup). Sumur ini terletak dekat dengan pertemuan dua buah sungai yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur.
  7. Makam Dipati Panaekan, adalah sebuah susunan batu yang dipercaya sebagai makam Raja Galuh Gara Tengah yang mendapat gelar sebagai Adipati dari kerajaan Mataram.
Selain situs-situs tersebut, di dekat area parkir terdapat :
  1. Mesjid
  2. Bangunan penyimpan sisa artefak yg ditemukan
  3. Gong Perdamaian Dunia









Sedikit mengulas Gong Perdamaian Dunia, ini adalah monumen berbentuk gong berukuran 3,3 meter yang di bagian belakangnya tersimpan sebuah pusaka peninggalan raja Galuh. Monumen ini dihiasi oleh kolam ikan, dan anak-anak kecil biasanya kelihatan membeli makanan ikan seharga Rp. 1.000 per bungkus lalu menyebarkannya di kolam sambil menikmati pemandangan ikan berebut makanan. Pendirian monumen ini diprakarsai oleh beberapa pejabat pemerintah setempat.

Selain tempat-tempat menarik tersebut, secara keseluruhan situs Karangkamulyan merupakan hutan lindung dengan berbagai koleksi pohon besar yang dihuni oleh monyet yang bebas berkeliaran. Setelah berjalan kaki mengelilingi area situs, anda dapat beristirahat di warung-warung yang menyediakan nasi timbel dan berbagai makanan dan minuman.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Share
Facebook

Popular Posts